Seperti bencana, wabah, dan kejadian besar lainnya. Pasti pikiran kita selalu merujuk kepada satu diksi, politisasi. Tapi di tulisan ini , saya tak akan membahas tentang itu. Karena justru hanya malah memperkeruh keadaan dan suasana yang terjadi pada masa ini.
Di tulisan ini , saya akan membahas satu diksi. Kompetisi.
Di pandemi corona yang membuat riuh ramai masyarakat dan media . Kompetisi menjadi salah satu bagian yang turut serta ambil andil dalam pandemi ini .
Mungkin , teman - teman bingung.
Apa sih sebenarnya yang dimaksudkan penulis ? Apakah tulisan ini bertujuan membuat keramaian dan huru hara sosial media ?
Tidak .
Disini saya akan menjelaskan , kompetisi apa yang saya maksud ?
1. Kompetisi cari untung
Yap, teman - teman pasti ingat. Setelah presiden kita mengumumkan kasus 01 dan 02 positif corona di Indonesia. Yang terjadi sangatlah luar biasa , Panic buying dimana - mana. Orang berharta seolah tak memikirkan. Jika semua diborong , orang tak punya mau makan apa ?
Apalagi penjual masker dan hand sanitizer yang secara kurang ajar menaikkan harga diluar batas wajar. Dan mirisnya , hal itu banyak sekali terjadi. Kedua barang itu bahkan langka saat itu, entah produk di apotek sudah dibeli untuk dipakai sendiri karena saking paniknya. Atau memang untuk dijual lagi ? Yang saya ingat , beberapa hari setelahnya Gunung Merapi Erupsi. Hujan abu turun di Solo dan Boyolali.
Warga - warga terdampak hujan abu yang seharusnya menggunakan masker karena bahaya ISPA. Bahkan tak kebagian masker karena kelangkaan masker di apotek. Dan kejadian kompetisi ini terus terulang hingga hari ini. Orang - orang berharta berlomba menimbun dan mencari keuntungan. Sementara orang tak punya masih kerja di jalanan seperti biasa. Tanpa masker , tak ada hand sanitizer.
2. Kompetisi tak takut rugi
Kebijakan pemerintah untuk Social Distancing memang membuat banyak pekerja dan pekerjaan dan terdampak. Mereka yang punya tabungan mungkin bisa bertahan beberapa bulan kedepan. Tapi mereka yang mengandalkan upah harian dan mingguan? Mereka terus setiap hari turun ke jalan untuk melakukan pekerjaan. Bukannya tak peduli himbauan , mereka hanya takut anak istri tak bisa makan.
Tapi untung ada orang yang berkompetisi disini, yaitu kompetisi tak takut rugi. Mereka yang berlomba - lomba melakukan kebaikan terutama menyumbang alat kesehatan dan memastikan pekerja harian dan jalanan bisa menuruti himbauan. Ada yang menjamin makan , ada juga yang memberi penghasilan.
Influencer pun tak mau ketinggalan , ambil contoh dr.Tirta dan Rachel Vennya yang membuka donasi yang dalam sekejap hari milyaran terisi. Terjun turun ke lapangan memberi bantuan. Mengedukasi kebaikan dan mengajak pencegahan.
Kompetisi inilah yang seharusnya terjadi , kompetisi yang tak peduli siapa yang mendapat poin tertinggi. Tetapi yang berkompetisi di hal ini sudah pasti bermanfaat sekali.
Jangan kita biarkan , rakyat menengah kebawah terinfeksi di jalanan karena alasan mencari makan.
Mari teman teman , kita berkompetisi tanpa mencari pemenang . Kita berkompetisi berbuat baik di pandemi yang kian hari kian meningkat grafiknya ini. Entah itu membantu dengan dana , entah mengedukasi dengan media.
Mari kita sama - sama melakukan pencegahan , kita hambat penyebaran.
Kita bersatu dalam pikiran , Tapi jangan bersatu dalam satu tempat.
Idealis memang perlu , saya tahu teman teman pasti punya pandangan sendiri terhadap pemimpin. Tapi mari sejenak kita lupakan polarisasi. Mari kita dukung dan kawal langkah langkah pemerintah baik daerah maupun pusat.
Semoga pandemi segera pergi , pekerja kembali bisa melakukan pekerjaan. Dan pelajar bisa kembali belajar.

Comments
Post a Comment