Gambar: Universitas Islam Malang
- Jangan percaya 100% omongan senior. Pokoknya jangan. Saatnya jadi dewasa, jangan telan mentah-mentah informasi yang didapat.
- Cari teman yang berasal dari daerah lain. Perluas relasi. Bisa jadi di kampungnya, dia punya berhektar-hektar ladang sawit. Atau anak pejabat daerah, perwira tinggi di kesatuan, sampai anak keluarga tajir yang jajan bulanannya lebih besar dari UMR ibu kota. Tapi jangan lupakan paguyuban mahasiswa daerah. Siapa tahu kamu bisa mulai membangun SDM di kampung halaman.
- Jangan terlalu cepat memutuskan buat ikut organisasi, komunitas, dan sejenisnya tanpa tahu latar belakang mereka. Adaptasi dulu, Bro. Dalam banyak kasus, dunia SMA itu berbeda jauh sama kuliah.
- Menjalin hubungan baik dengan staf dan warga kampus. Ini banyak manfaat plus-plusnya. Tidak perlu dijelaskan, lah. Minimal, bisa bantu kelancaran proses perkuliahan kamu.
- Aktif di kegiatan keagamaan. Selalu sertakan Tuhan dalam setiap kehidupanmu. Kalau kamu tidak meyakini Tuhan, boleh diganti dengan kegiatan apapun yang meningkatkan kualitas spiritual/rohani. Tapi ingat, jangan sampai menyimpang ya.
- Milikilah sebuah paspor, secepatnya. Penting buat kamu yang punya cita-cita ikut exchange ke luar negeri. Pastinya gamau kan batal berangkat ke luar negeri karena masih harus ngurus paspor. Beberapa program malah memberikan syarat salinan paspor sebagai kriteria untuk lulus seleksi administrasi di awal. Kalaupun tidak ikutan exchange, bisa dijadikan motivasi untuk segera mendapatkan cap imigrasi pertama di paspormu.
- Cari pekerjaan sampingan. Tidak harus apply jadi barista starbucks. Mengajar privat anak SD juga bagus kok, tugas mulia malah. Atau jual jasa desain, joki tugas, jualan barang fancy, dll. Pokoknya kamu punya pemasukan tambahan yang akan sangat membantu ke depannya. Minimal, bisa beli barang idaman kamu tanpa harus mengurangi uang untuk jatah makan yang dikirimkan orang tua.
- Temukan sudut favoritmu di kampus. Apa saja yang akan kamu tempati saat jam-jam kosong di kampus atau ketika bosan di rumah/kamar kos. Bisa rooftop, gedung yang terbengkalai, perpustakaan, parkiran yang sepi, venue olahraga yang jarang dipakai, dan lainnya. Saya punya sudut favorit di kampus untuk membaca buku. Pastinya sudut itu berada di lokasi yang cukup jauh untuk dijangkau sehingga saya bisa tenang tanpa distraksi saat di sana.
- Cari senior kampus yang berprestasi. Semakin dia tidak terekspos di kampus (artinya dia cukup independen), semakin baik. Ajak mereka buat nongkrong bareng. Kalau perlu sesekali traktir mereka. Biasanya mereka tipikal orang yang humble dan respek terhadap orang lain. Tidak pernah merasa superior atas pencapaiannya. Kamu akan belajar banyak dari dia. Caranya gimana? Hohoho, Anda butuh kemampuan profiling, Ferguso.
- Mulai temukan alumni yang sudah bekerja di tempat-tempat bagus. Minta mereka untuk berbagi pengalaman selama jadi mahasiswa hingga berhasil meniti karir sampai sekarang.
- Mulai membaca buku-buku populer hingga sastra klasik. Perluas wawasan dengan membaca berbagai jenis buku. Percayalah, buku itu memperhalus manner dan menentukan cara kamu memperlakukan orang lain secara tidak langsung.
- Atau, kalau memang kamu tidak tertarik dengan buku sama sekali, coba untuk mendengar podcast berkualitas. Tersedia banyak kok di aplikasi spotify, gratis lagi!
- Milikilah pencapaian yang relevan dan bisa dijadikan portofolio dalam dunia kerja nantinya. Entah itu artikel yang dimuat di surat kabar, konten video di YouTube, karya seni, kemampuan bermusik, atau pengalaman menjadi relawan sosial di sebuah kegiatan. Semakin unik, akan semakin bagus!
Segitu dulu, ya. Selamat meniti karir sebagai mahasiswa baru. Sukses terus sampai akhir!

Comments
Post a Comment